Melahirkan

Melahirkan Bagi Wanita

Melahirkan adalah peristiwa bagai pisau bermata dua. Di satu sisi persalinan bagi orang-orang yang menyaksikannya, termasuk bagi para suami adalah peristiwa yang membahagiakan. Tetapi di sisi lain, bagi para wanita sendiri hal ini juga merupakan peristiwa yang menakutkan. Apalagi bagi para wanita yang baru pertama kali mengalami persalinan. Gambaran rasa sakit saat kontraksi dan mengejan bagaikan mimpi buruk saja. Jika sudah seperti ini, kehadiran seorang suami untuk menenangkan sangatlah penting.

Suami Siaga atau Siap, Antar, dan Jaga sangat penting dilakukan. Meskipun pada kasus tertentu, SIAGA dapat juga dilakukan oleh orang terdekat lainnya, terutama jika sang suami bekerja di luar kota. Jika Anda kebetulan suami yang biasa berada di sisi istri, sebaiknya Anda mulai mencari tahu apa saja kebutuhan istri yang akan melahirkan.

Tetapi meskipun para wanita yang mendekati hari kelahiran biasanya diliputi ketegangan, para suami juga bisa ketularan alias ikut tegang. Nah, Anda sebagai laki-laki akan ditantang untuk tetap tenang dan bijaksana. Jika sang suami ikut tegang dan tertekan niscaya sulit juga untuk menenangkan ketegangan istri.

MELAHIRKAN

Tugas Suami

Bagaimanakah caranya agar para suami terbiasa dengan saat-saat istri mengalami ketegangan jelang melahirkan? Kebersamaan saja tidak cukup. Anda sebagai suami sangat perlu untuk menjadi tempat berkeluh kesah sang istri. Jika sang istri sulit tidur karena beratnya beban di perutnya, Anda bisa mulai mengelus-elus perutnya agar ia tenang. Jika istri kesakitan atau panas pinggang, Anda juga bisa memijat-mijatnya secara ringan saja.

Cinta dan kasih sayang akan memberikan ketenangan bagi para istri yang akan melahirkan. Jika sang istri mulai mengeluh secara verbal, maka dengarkanlah keluhannya dengan baik. Lalu tenangkan ia bahwa semuanya bisa berjalan dengan lancar. Inilah saat-saat Anda sebagai seorang suami begitu dibutuhkan sang istri.

Melahirkan anak, apalagi untuk pertama kalinya memang tidak selalu mudah. Tetapi bukan berarti sulit untuk dilalui. Agar kelahiran juga lancar, yang terpenting juga adalah selalu rajin untuk memeriksakan kehamilan. Dalam fase ini, sang suami sangat perlu untuk menemani agar mengetahui perkembangan janin yang ada di dalam kandungan. Bukan hanya itu, sang istri pun bisa ditenangkan jika ada hal-hal yang tak terduga. Nanti jika saatnya persalinan tiba, Anda juga bisa mengukur apakah Anda sanggup untuk mendampingi di ruang bersalin atau tidak. Jujurlah pada diri sendiri apakah Anda sanggup atau tidak.

Saatnya Suami “Keibuan” digalakkan

Zaman sekarang, imaji seorang ayah bukan saja sebagai pencari nafkah. Imaji ayah yang baik juga merujuk pada perannya di rumah. Jangan katakan bahwa seorang laki-laki atau ayah zaman sekarang berarti hanya sibuk berada di luar rumah. Kini sosok ayah yang baik juga adalah ayah yang bisa membantu tugas istri.

Pernahkah Anda menyaksikan sebuah iklan dimana seorang ayah dengan lengan dan dada berotot ia tengah menggendong mesra buah hatinya yang masih mungil? Setidaknya seperti itulah sosok atau imaji seorang ayah zaman sekarang. Seorang ayah yang tidak malu-malu menggendong anaknya di dadanya yang bidang. Juga seorang ayah yang tak segan menyuapi anaknya di kala hari libur.

Sebelum Anda mulai menikmati peran sebagai seorang ayah, oleh karena itu Anda juga harus berlatih menjadi suami yang baik di saat istri akan melahirkan. Selain hubungan mesra dengan sang istri terus terjalin dengan baik, hubungan dengan anak juga sudah mulai dipupuk. Bayangkanlah Anda akan menjadi sosok yang penuh cinta dan tanggung jawab. Niscaya sang istri pun siap menghadapi peristiwa persalinan secara lebih baik.